Thursday, July 01, 2010

Silaturahmi Sastra di Reboan




Silahturami Sastra di Reboan
Jumat, 2 Juli 2010 | 02:48 WIB
dok.sastra reboan

Sebagai suatu komunitas, Sastra Reboan menarik untuk dipelajari dan dibawa ke daerah untuk bisa dikembangkan. Tidak hanya sebagai ajang silahturahmi yang membuka sekian pintu sastra yang ditutup oleh orang-orang tertentu, tapi juga untuk membuka cakrawala baik dari yang ada di daerah ke Indonesia, ataupun yang ada di Indonesia ke luar Indonesia dan sebaliknya.

“Jadi tidak menutup kemungkinan Sastra Reboan akan menghadirkan sastrawan asing, atau sebaliknya”, kata penyair terkenal dari Gresik, Jawa Timur, Mardi Luhung setelah membacakan puisinya di Sastra Reboan #27, kemarin (30/06). Hal itu dikatakan Mardi Luhung di panggung menjawab pertanyaan Budhi Setyawan yang menjadi MC dan kepada Ketua Sastra Reboan, Johannes Sugianto dalam perjalanan pulang selesai acara.

Ketika diberitahu bahwa April 2009 lalu sebanyak 20 sastrawan dari Malaysia datang ke Indonesia dipimpin dr.Irwan Abu Bakar, setelah sebelumnya Dato’ Ahmad Kemala juga hadir di Reboan, Mardi Luhung yang baru meluncurkan bukunya terbaru “Ciuman Bibirku yang Kelabu” mengatakan “Itu yang menarik dan kita harapkan. Jadi selalu ada pintu lain yang dibuat”.

Penyair yang karyanya sudah banyak dimuat di berbagai media ini menyarankan jika perlu di akhir tahun ada buku yang diterbitkan oleh Sastra Reboan, yang terkait dengan acara selama setahun, semacam jurnal. Isinya bisa tentang puisi, prosa, foto, kliping berita dan wawancara yang diseleksi dengan standar yang ada. Pasti asyik, tambahnya.

Sastra Reboan ke 27 yang mengusung tema “Juni yang Penuh Rencana” tidak hanya menampilkan penyair ternama seperti Mardi Luhung tapi juga Sapardi Djoko Damono yang menulis puisi legendaris “Hujan Bulan Juni”, artis Cornelia Agatha dan penyair lainnya, selain penggemar sastra yang mendapat kesempatan tampil membaca karyanya. Selain itu juga berlangsung diskusi buku “Kabut Pantai Anyer” karya Anny Djati Waluyo dengan pembahas Aurelia Tiara dan Ilenk Rembulan.

Selain itu, dalam Sastra Reboan kali ini juga banyak yang pertama. Seperti Ruth Meinila yang pertama kalinya tampil di sebuah panggung sastra. Sedang Cornelia Agatha, Johnnie Kirman, Iman, Mardi Luhung, Ira Ginda, Josephine Maria dan Diana yang baru pertama kali tampil di panggung Reboan.

Acara diawali dengan penampilan Chicken Crispy Band yang mengusung musik rock, sebelum Ruth Meynala membaca karyanya “Permata Hatiku” yang dipersembahkan untuk ketiga puterinya. Disusul Iman, seorang guru bahasa Inggris dengan puisi “Ideal” dan “Lone Saturday” dan Johnnie Kirman (arsitek yang tinggal di Tangerang) membaca “ Hijaunya Membara”. Berikutnya tampil Kartika DIana Hade Putri, mahasiswa STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) yang menampilkan monolog dari puisi “Sebelum Fajar” karya Sapardi Djoko Damono. Penampilan pembuka, pembacaan puisi dan monolog ini segera menghangatkan suasana di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan malam itu.

Sejak pukul 19.00 pengunjung mulai mengalir. Sapardi Djoko Damono datang lebih awal. “Biar tidak kena macet,”katanya sambil memesan nasi goreng dan jahe panas, setelah bertanya apakah ada bajigur atau tidak. Penulis lainnya yang berdatangan antara lain Kurnia Effendi, Kurniawan Djunaedi, cerpenis Rama Dira J (terpilih dalam 10 cerpenis terbaik Kompas, termasuk juga Mardi Luhung), Jodhi Yudhono, Endo Senggono, Ags Arya Dipayana, Irmansyah dan para penulis muda yang belakangan makin bermunculan.

Menulis Saja

Bincang-bincang sastra kali ini diisi dengan pembahasan novel kedua Anny Djati “Kabut Pantai Anyer” (KPA) . Wanita pengusaha daging impor ini menulis novel bertema pembunuhan. Ditengah kesibukan bisnisnya dan fungsinya sebagai isteri Djati Wlauyo, konsultan jalan tol, dan ibu dua anak ini, dia masih sempat menulis. Ini berkat kesukaannya membaca buku sejak kecil, mendirikan taman bacaan bersama teman-temannya dan menjadi wartawati suatu majalah. Karya pertama Anny (57) berjudul “Dilema Perempuan” diterbitkan tahun 2008.

Anny Djati sendiri mengakui belum pernah membuat tema pembunuhan seperti dalam novel keduanya ini, meski ia suka cerita dan film kriminal seperti karya Agatha Christie. Atas dorongan teman-temannya, dibantu seorang intel, ia mencoba menulis cerita yang akhirnya menjelma dalam KPA yang bertutur tentang perempuan usia 27 tahun dari keluarga bahagia tapi ternyata semu dan penuh pergulatan akan dendam hingga terjadi pembunuhan terhadap adiknya.

Bagi Aurelia Tiara Widjanarko yang menjadi pembahas novel ini bersama Ilenk Rembulan, selain kaya data dalam KPA juga terasa penokohannya yang moderen sekali. Sedang Ilen, yang merasa salut atas keberanian Anny mengambil tema pembunuhan, melihat warna yang lebih maskulin dibanding buku pertamanya. Menurut Anny, hal ini merupakan suatu pilihan, dan dalam tema pembunuhan ini maka dibuat lebih “laki-laki” dibanding buku pertamanya.

Sedangkan Ita Siregar, cerpenis yang mendapat kesempatan bertanya, berpendapat bahwa penulis tidak membebaskan tokoh-tokohnya melakukan tindakannya, tetapi seolah didalangi oleh penulis sendiri dalam alur cerita yang bagus.Hal ini ditanggapi oleh Anny, bahwa penulis memang menentukan nasib para tokoh, dan ini dipengaruhi oleh unsur ‘si aku”. Adanya penjelasan yang terkesan sangat rinci dalam KPA, bisa jadi karena banyak berkonsultasi dengan pihak kepolisian untuk melengkapi data yang ada.

“Bagaimanapun, penulisan dua novel ini merupakan pembelajaran yang sangat berharga”, kata Anny Djati yang sedang mempersiapkan buku ketiganya. Di ahir bincang-bincang ini, Aurelia Tiara yang juga penyair dan host di TVRI membacakan cuplikan novel KPA.

Malam terus bergulir. Mardi Luhung yang datang bersama isterinya langsung menghentak dengan pembacaan puisinya “Dari Jalanan”, diikuti “Orang yang Ber Tuhan Jelek”, bertutur tentang Sumanto, pelaku kejahatan yang memakan daging korbannya. Pengunjung yang makin memenuhi Wapres meminta tambahan puisi kepada Hendry, panggilan akrab Mardi Luhung. Lelaki kelahiran Gresik, 5 Maret 1965 ini memenuhi permintaan itu dengan membaca “Gresik 18” tentang nasih Gresik di masa mendatang.

Pembacaan puisi terus belanjut. Kali ini dua penyair yang baru meluncurkan karyanya bersama penyair lainnya dalam “Tarian Ilalang” tampil berurutan yaitu Ira Ginda membawakan “Pejalan”, “Mantra Waktu” dan “Wajah Bapak Ibuku” serta Jospehine Maria yang berduet dengan Jack dalam “Dua Rupa yang Terlupa” dan sebuah karya Ade Rizal.

Penggiat sastra dan penyair Ira Ginda alias Ira Pelitawati membaca karya temannya “Pejalan” dan “Mantera Waktu”, Wajah Bapak Ibuku” . Pembacaan berikutnya oleh duet Josephine Maria dan Jack alias Jakaria bin H Masan membacakan puisi ciptaan Josephine "Dua Rupa yang Terlupa" dan sebuah karya Ade Rizal.

Lalu penampilan yang ditunggu-tunggu, selain Mardi Luhung dan Cornelia Agatha, adalah Sapardi Djoko Damono yang juga guru besar Universitas Indonesia, dalam perbincangan yang dipandu Kurnia Effendi. Dengan penampilan sederhana, bercelana jeans biru,baju putih dan jaket coklat sastrawan besar ini menjawab pertanyaan Kef, panggilan Kurnia Effendi dengan santainya.

Tentang ‘Hujan Bulan Juni”, Sapardi dengan tenangnya mengatakan, hujan di Juni ini bukan lagi misteri karena hujan sudah datang di bulan Juni. Seniman bukan orang yang membaca masa depan, kalau begitu kan saya bisa jadi ketua Badang Meteorologi dan Geofisika. Ucapan lelaki sederhana ini disambut tertawa dan tepuk tangan.

Soal “waktu”, ia juga mengatakan bahwa waktu itu kita yang menciptakan, dan itu akan terus berubah. Kita yang membuat hari, membuat jam. Waktu itu tidak ada. Waktu itu dibuat oleh orang, dan kita tidak dapat membuat waktu.

Pesannya untuk penulis, menjawab pertanyaan Kef, pujangga kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940 ini mengingatkan masih sedikitnya toko buku saat ini dibanding karya yang ada. Komunitas adalah forum yang bagus untuk memasarkan atau memamerkan karya-karya kita, sesuatu yang tak diminati oleh toko-toko buku. Penulis juga menemukan pembacanya lebih terbuka lewat komunitas.

Menjawab pertanyaan salah satu pengunjung tentang puisi yang dimusikkan, Sapardi mengatakan bahwa puisi diadaptasi ke teater dan musik itu hanya alih wahana saja. Puisi itu sebenarnya adalah bunyi oleh karena itu puisi bisa dibuat menjadi musik atau lagu. Elemen yang bagus ada rima seperti puisi Amir Hamzah. Tetapi musik tak bisa diubah menjadi puisi karena tak mempnuyai kata-kata. Puisi adalah harmoni antar abunyi dan bentuk. Memindahkan bunyi kedalam kata-kata menjadi karakter yang bermakna-makna. Puisi itu menuntut bunyi karena harus dibaca. Parameter puisi bagus adalah dari diri si penulis sendiri.

“Jika ditanya tentang menulis, saya hanya menulis. Perkara jadi puisi ya biarlah jadi puisi, begiut juga jika nanti jadinya prosa. Menulis saja”, katanya mengakhiri bincang-bincang yang sayangnya masih juga terganggu oleh obrolan sebagian pengunjung.

Acara terus berjalan, kali ini menampilkan Restoe Ibrahim Prawiranegara yang membaca karyanya berjudul ”Nestapa” dan ”Potret Buram” diiringi petikan gitar dan harmonika Rian Gabo. Dilanjutkan dengan Dian M Balqis yang membawakan "Hingga Nafas Terhenti." yang merupakan salah satu lagu dari album yang sedang digarapnya.

Di akhir acara, sebelum Susy Ayu yang baru melemparkan buku puisinya “Rahim Kata-Kata” membaca “Laki-laki yang Mencariku” dan “Perempuan-Perempuan”, artis cantik yang populer lewat sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”, Cornelia Agatha membaca sebuah puisi karya Moamar Emka, “Jiwa-jiwa yang Patah”. Puisi ini dibawakan dengan penuh penghayatan dan menawan. “Puisi ini saya persembahkan untuk kekasih saya, orang yang membuat saya jatuh cinta dengan puisi. Puisi ini untuk Sapardi Djoko Damono”, ucap Lia, panggilan Cornelia, yang disambut tepuk tangan meriah dan senyum oleh Sapardi.

Lia kemudian bermusikalisasi puisi dengan Yuyun, penyanyi yang bersuara seksi dan indah, dalam “Akulah Puisi” karya Lulu Ratna dengan latar musik disco. Penonton seperti tak beranjak dari tempat duduknya, apalagI ketika Lia melanjutkan penampilannya dalam “Rose” karya Ridha K.Liamsi yang dibawakan dalam hentakan musik campuran gamelan Bali dan rock.

Klimaks malam ini diisi oleh Cornelia Agatha dengan membaca sendiri "Jiwa-Jiwa yang Patah" karya Moamar Emka dilatari alunan musik gitar. Puyisi itu khusus ia bacakan untuk SDD. Diteruskan dengan duet musikalisasinya bersama Yuyun "Akulah Puisi" karya Lulu ... dengan latar musik disco dan backsound Yuyun. Duet bunyi-bunyi puisi yang cantik dan seksi ini sangat memesona penonton. Hentakan musik campuran gamelan Bali dan musik rock, disco mengiringi "Rose" karya Ridha K Liamsi oleh pembacaan Lia, panggilan akrab Cornelia, dan backsound Yuyun. Penampilan luar biasa.

Sastra Reboan ke 27 ini ditutup oleh MC Budhi "Buset' Setyawan dengan membacakan puisi karyanya sendiri "Perempuan yang Tertawa pada Hujan" yang ditujukan untuk Mardi Luhung dan Cornelia Agatha. (ochi/gie)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home