ziarah sunyi
di pelataran tanah berpasir
sayapsayap malam membentang
serupa kubah transparan
di langit awan menyisir rembulan
bintang bergantungan
pada longkangan bangunan tua
orang-orang bersimpuh
diantara dua pohon sawo kecik
yang rimbun daunnya memeluk cungkup
lima menit lalu, kita baru usai
mengucap salam di emperan masjid
beberapa orang terlelap di samping bedug
dibasuh cahaya lampu temaram
“tak banyak kumengerti
pada setiap ritual bersahaja ini” bisikmu
“ya tak perlu kau pahami,
rasakan saja detak jantung sunyi”

