Pelarian
Anggoro berlari terengah-engah, nafasnya memburu seperti sekawanan domba yang dikejar serigala. Ia menyusuri lorong-lorong waktu menyelinap ke dalam celah-celah rumpun gelisahnya. Melompati kecemasan-kecemasan yang tiba-tiba seperti bermunculan dari segala arah.
Menyisir jalanan tanah berbatu. Terus dan terus berlari, sepertinya ia ingin melewati, meninggalkan jauh bayangannya sendiri yang terus membuntuti.Dua kilometer di belakangnya kaki-kaki berlari dengan teriakan mengancam. Obor-obor menyala dalam genggaman tangan kiri. Tombak, golok, parang dan pentungan teracung di tangan kanan.
“Jangan biarkan bajingan itu lepas!”
“Ya kita ringkus dia mati atau hidup”
“Kita gantung saja di kuburan”
“Jangan! Kita kuliti dulu baru di gantung di pohon!” suara-suara dengan nafas memburu yang berselimut kemarahan sahut menyahut dalam gelap malam. Mereka terus bergerak menyusuri jalan mendaki arah perbukitan. Selewat bukit pasir itulah membentang pantai juga pelabuhan. Nampak layar-layar perahu dalam shilouet malam. Didera angin laut yang bertiup kencang. Diantara perahu-perahu yang bersandar itulah sesosok bayang mengendap-endap. Mencoba menyisir celah-celah papan kayu menghindari puluhan tatap mata yang siap menjagal.
Setelah merasa mendapatkan tempat persembunyian di dalam lambung kapal paling belakang, direbahkannya badan, duduk bersandar pada bilah-bilah papan. Menunggu saat yang tepat untuk keluar dari tempat itu menuju tempat yang jauh. Pergi ya... pergi secepatnya, tapi tentu saja ia harus sabar sampai tiba saat yang tepat. Sementara mengatur degub jantung dan deru nafas, angannya melayang.
Ia hanya seorang pecundang yang selalu gagal. Garis nasib memberikan satu predikat “Kaulah pelarian!” Dan seorang pelarian tak pernah sanggup menghilangkan aura kecemasan. Setiap mata yang berpapasan perlu dicurigai. Jangan-jangan di saat itulah awal sebuah ancaman datang. Ia harus hati-hati. Sangat hati-hati. Hal pertama yang dilakukan adalah mengganti identitas diri. Misalnya nama, bentuk muka dan potongan rambut. Kalau perlu logat bahasa pun dirubah. Jangan menyisakan ruang sedikit pun untuk menampilkan sesuatu yang dapat menimbulkan kecurigaan. Karena sekali hal kecil terbuka maka selesailah sudah alinea dalam lembar catatan yang segera akan menuliskan “Matinya sang pecundang!”
Inilah pelariannya yang ketiga, pertama kali adalah lima tahun lalu. Saat pemilihan kepala desa. Salah satu calon kuat memintanya membantu mencari pendukung. Karena ia cukup dikenal dan banyak teman berkat pergaulan dengan semua kalangan. Setelah bisik sana sini dengan cepat terkumpul lebih dari empat puluh persen pemilih siap mencoblos gambar “mangga” lambang calon gacoannya, dengan syarat malam sebelum coblosan amlop berisi uang sudah harus diserahkan ke semua calon pemilih.
Rencana sudah disiapkan matang. Tapi hingga saat yang dijanjikan hanya sedikit orang datang mengambil amplop. Rupanya tanpa diduga calon lainnya telah bergerak lebih cepat. Menjemput para pemilih dan mengkarantina dirumahnya yang luas. Diberi makan dan uang lebih besar. Mendengar kabar itu ia panik dan kelabakan, uang sogokan sudah ada ditangan tapi hanya sedikit yang datang. Padahal ia bersumpah rela digorok jika janji kemenangan untuk “gacoannya” tak terbukti. Maka sebelum hal buruk terjadi ia memilih lari meninggalkan desa kelahiran dari ancaman tukang pukul “gacoannya” yang kalah.
Pelarian keduanya terjadi saat ia pindah keluar kota, nasib baik masih tersisa. Seorang pengusaha menerimanya menjadi sopir pribadi. Mengantar dan menjemputnya ke kantor. Pengusaha itu punya anak lelaki yang masih remaja. Sampai peristiwa malang itu menimpa. Mobil yang biasa ia bawa menabrak kerumunan orang di pinggir pasar saat anak pengusaha itu belajar mengemudi bersamanya. Hanya gara-gara menghindari kambing yang menyeberang. Menghindari amukan orang seluruh pasar ia memilih kabur meninggalkan anak majikan yang pingsan bersimbah darah dalam kendaraan. Lari sekencang-kencangnya.
Malam menggeliat dalam desir angin laut yang makin tajam. Perahu-perahu bergoyang dimainkan hempasan ombak. Telinganya makin jelas menangkap suara langkah-langkah kaki. Cahaya dari obor-obor ditangan menerangi langit yang muram. “Cari terus!, periksa setiap sudut perahu siapa tahu ia ngumpet disana!” perintah dari lelaki berkumis, pemimpin dari para pemburu. Orang-orang kampung nelayan yang marah. Karena teh Mimin perempuan sintal pengusaha perahu yang menjadi juragan mereka ditemukan mati dikamarnya. Ada saksi mata yang melihat Anggoro melompat dari jendela kamar selang usai kejadian.
Anggoro merapatkan lagi kakinya, menekuknya agar bisa masuk lebih ke dalam ruang sempit dibawah tumpukan kayu dalam kapal.
Tiba-tiba melintas bayangan kejadian beberapa saat yang lalu. Mimin ya Mimin, semua berawal dari perempuan itu. Anggoro telah terpikat begitu melihatnya, perempuan pemilik beberapa perahu yang di sewakan untuk para nelayan. Perempuan yang kesepian, suaminya seorang pelaut yang hanya tiga bulan sekali pulang. Lelaki berjambang dan berkumis lebat yang datang hanya untuk melampiaskan gairah lelakinya saat singgah.
Selang satu hingga dua hari lelaki berjambang itu kemudian berlayar lagi. Lelaki yang tak banyak bicara, kecuali aroma alkohol dari dengus nafasnya yang memburu diatas ranjang., mulutnya mirip kerbau tak henti melengus, hanya beberapa inchi diatas hidung dimana mimin telentang.
Lelaki yang tak pernah bertanya tentang perasaan istrinya. Petang itu seperti biasa Anggoro bertandang ke rumah Mimin. Ngobrol di teras depan, di halaman nampak rintik-rintik hujan. “Ini kopi panasnya, Bang.” sapa Mimin dengan senyum manja.“Terima kasih.” Anggoro membalas sambil menghirup kopi dari bibir gelas.
Mimin menatapnya tak berkedip. Mimin telah menyukainya sejak awal ia datang berpakaian lusuh dan meminta pekerjaan. “Lelaki yang tampan berbadan sedang dengan rambut lurus tebal” bisiknya. Maka Anggoro diberinya pekerjaan membantu menarik uang sewa perahu para nelayan. Anggoro bukan tidak tahu bahwa perempuan itu menyukainya. Perempuan berkecukupan, menarik, dengan kulit sawo matang, leher jenjang dan rambut terurai hitam panjang. Dan petang itu ia melihat Mimin dengan dandanan yang istimewa. Gaun tipis dengan belahan terbuka pada bagian dada. Ada bau harum aroma melati saat tangannya tadi menghidangkan kopi, ditambah senyum itu, senyum pengharapan. Jantung Anggoro berdesir, darahnya bertambah deras mengalir. Tiba-tiba tangan halus mimin meraih tangannya.
“Ayo bang masuk ke dalam, gerimis makin deras nanti basah lho!”
Seperti kerbau dicocok hidungnya Anggoro pasrah saja dituntun ke dalam ruang tengah dan melangkah terus masuk ke kamar. Anggoro sejenak terhenti di mulut pintu. “Ayolah! Tak ada siapa-siapa...” bisik manja Mimin mencoba meyakinkan. Malam merangkak pelahan. Gemuruh hasrat memompa seluruh birahi paling purba. Dua tubuh saling tindih dalam temaram dan bayangan deras hujan.
“Brauaak!” suara pintu ditendang. Sesosok tubuh berdiri mematung di tepi ranjang, ada suara gemeretak rahang. Wajah Mimin pucat, bulu kuduk Anggoro berdiri. Birahi yang mendekati puncak cair seiring suara bentakan garang. “Bangsat kalian!, dasar perempuan sundal tak tahu diri!” Lelaki berjambang dengan bau alkohol di mulutnya tegak menggenggam sebilah parang. Secepat kilat tangan itu menghujam. Anggoro beruntung mampu berkelit ke belakang. Akibatnya parang bersarang tepat ke dada Mimin yang segera terkapar bersimbah darah. Dengan hanya bercelana Anggoro melompat keluar jendela.
“Perampok, pembunuh!” teriak lelaki berjambang itu sambil berlari keluar rumah. “Kejar ia, bawa ke sini hidup atau mati!” teriaknya berulang. Kaki-kaki berlari menuju arah telunjuk dari lelaki berjambang. “Mana dia!” “Ke sana!” sahut yang lainnya.
Anggoro terus berlari mempercepat larinya, nafasnya memburu seperti sekawanan domba yang dikejar serigala. Ia menyusuri lorong-lorong waktu menyelinap kedalam celah-celah rumpun-rumpun gelisahnya. Melompati kecemasan-kecemasan yang tiba-tiba seperti bermunculan. Hanya beberapa saat ia menghentikan langkah. Mengusap keringat yang mengucur membasahi sekujur tubuhnya. Dingin teramat dingin keringatnya, jauh lebih dingin dari angin malam yang menyapu menderu-deru. Seperti layar perahu para nelayan yang terombang-ambing dihempas gelombang dan angin pasang. Lalu kembali ia berlari menerobos semak-semak basah. Menyisir jalanan tanah berbatu. Terus dan terus berlari, sepertinya ia ingin melewati, meninggalkan jauh bayangannya sendiri yang terus membuntuti.
“Kita segera berangkat, semua siap!” kata sebuah suara lantang. Tali jangkar ditarik. Deru mesin membahana. Kapal bergerak perlahan meninggalkan dermaga. Hari masih pagi udara bersih, langit jernih. Tapi tidak dengan Anggoro, tadinya ia sempat gembira karena kapal benar-benar tarik jangkar.
“Bagaimana laporan pencarian?” tanya kapten kapal.
“Semua jalan sudah ditutup, semua tempat sudah digeledah, kecuali satu Pak!”
“Dimana itu?”
“Dibawah Pak, dalam tumpukan kayu. Tinggal disana kemungkinanya!”
“Cepat cari. Kalau dapat, cincang atau bakar dan buang mayatnya ke laut!”
“Siap Pak!”
Kini ada badai lebih besar yang siap meluluhlantakkannya. Ia seperti mengenal suara kapten kapal. Ya, suara suami Mimin, lelaki berjambang itu.***


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home