"Siapa bakal menduga?"
Mbah Maridjan hanyalah sosok yang berani menjalani tanggung jawab yang diembannya menjadi juru kunci merapi. Ia mungkin percaya tentang garis nasib, bahwa segala sesuatu telah ditentukan. Bagi Mbah Maridjan sekarang atau nanti kalau memang takdir menghendaki ia siap menjalani dengan penuh rasa tulus. Setulus cintanya mengemban tugas yang diamanahkan kepadanya untuk menjaga merapi. Dan dia siap berdiri di barisan paling depan menyongsong bahaya yang mungkin saja setiap saat menerjang.
Para pemimpin negeri ini mestinya bisa belajar dari laku mbah Maridjan. Ketika akhirnya bencana dahsyat yang lebih besar datang dan sekali lagi tak terduga. Maka yang tampak adalah sikap panik dan saling melempar tanggung jawab. Masih segar dalam ingatan kita tentang bencana Tsunami di Aceh, dan kita tak juga mengambil hikmah pelajaran darinya. Penanganan para korban tetap saja buruk. Insitusi semacam bakornas, bakornasda, satkorlak dan lainnya yang diharapkan menjadi ujung tombak malah menjadi beban bagi efektifitas penanggulangan situasi gawat darurat.
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah wilayah yang sebenarnya tak terlalu luas. Dari pusat penanggulangan bencana ke daerah yang parah tertimpa musibah tak lebih dari 30 km. Gempa berkekuatan 5,9 SR yang meluluhlantakkan wilayah mulai dari Kabupaten Bantul, Kotamadya Yogyakarta hingga Kabupaten Sleman dan sekitarnya masih menyisakan akses jalan yang memungkinkan dilalui kendaraan roda empat untuk pengiriman bantuan logistik. Tapi hingga hari ketiga dan keempat masih saja menyisakan cerita duka, masyarakat yang tak lagi mempunyai tempat berteduh kecuali dibawah tenda-tenda yang sederhana terpaksa bertahan dengan perut kelaparan.
Kita mungkin tak perlu mempunyai pemimpin seperti Sang Khalifah Umar ibnoe khatab. Bagaimana ia demikian merasa berdosa melihat ada seorang ibu yang terpaksa merebus batu demi menenangkan anak-anaknya yang lapar. Dan dengan punggungnya sendiri sang Khalifah menggendong sekarung gandum untuk diserahkan kepada ibu yang malang itu.
Kita barangkali hanya membutuhkan pemimpin-pemimpin yang mau tanggap dan cepat melakukan sesuatu saat menghadapi musibah apapun. Karena kita memang hidup diatas wilayah yang begitu rawan terhadap segala jenis bencana.
Tapi apa boleh buat, kita hanya sibuk berdebat bahkan bertengkar terhadap hal-hal yang tak menyangkut langsung harkat hidup rakyat banyak.
Sikap pemimpin kita malahan sering menaruh curiga pada rakyat yang dipimpinnya. Rakyat yang papa karena rumahnya telah rata dengan tanah, bahkan harus dihardik saat dengan perasaan terpaksa meminta sedikit bekal di pusat penampungan bahan makanan untuk sekedar mengganjal perutnya. Mereka bukanlah manusia tamak dan rakus yang mampu menelan berton-ton beras karena punya sekian gudang.
Bencana gempa di DIY dan sekitarnya bukanlah musibah terakhir bagi bangsa ini. Suratan alam tentang bencana dalam berbagai bentuk akan selalu menuntut kita untuk tanggap dan cepat menghadapinya. Masih belum terlambat untuk memperbaiki sikap kita yang mungkin telah menyebabkan rakyat yang menderita makin teriris perasaannya.


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home