Tuesday, July 28, 2009

perempuan itu

perempuan itu bernama rahasia
tangannya menganyam harapan dengan diam-diam
dilipatnya risau di antara keranjang dan sepeda
lalu selarik doa dibiarkannya kuncup di sudut keningnya

ada yang menetap dari tempat ke tempat, dari penat ke penat
sepasang mata kecil yang selalu mengiringinya
tatkala terpejam dan terjaga, di ranjang atau di beranda
seperti sebuah nyala lentera, ia bersemayam di hatinya

perempuan itu bernama rahasia
di antara rintik hujan dan debu jalan
dilipatnya rindu pada larik-larik doa di gerai rambut hitamnya
yang makin nyaring bergema, bersama angin dan derai cemara

Monday, May 18, 2009

sunyi

sunyi,
kutunggu kau di ruang sudut hati
malam ini kita akan bercakap kembali
tentang cinta berkabut
rindu berlumut

jangan lupa sepasang matamu
yang menyimpan telaga
karena kita akan menyelaminya
menembus lintasan rahasia

sunyi,
ayo segera pergi
tinggalkan sejenak tangis tanah ini
berkelana mencari jejak-jejak cahaya

lihat
jutaan bayang-bayang mengikuti

biarkan saja!
kita toh tak sedang memburunya

sunyi,
ayo percakapan kita mulai

Thursday, May 14, 2009

tidaklah sama bagiku juga bagimu

memandang garis cuaca
musim yang berkejaran dilingkar kehendak
doa juga sumpah serapah berderak dipangkal lidah

pada sebelah mana kita pernah singgah
menulis beribu lembar kisah pengabdian
atau penghianatan
menyiram beratus tunas yang tumbuh di rembang pagi
atau menebar benih-benih tragedi

mengusung abad yang jatuh
di kaki musim kulihat telapak penuh sayatan
luka itu lembar kisah lain yang luput ditoreh

tidaklah sama bagiku juga bagimu
tangan kita biarlah kelak berkata

pada akhirnya
kita sendirian melangkah pulang bukan?

pulang 1

dilingkar jalan
wajahmu meleleh
dalam deras hujan
mengalir ke parit-parit tubuhku

tapak-tapak ragu melintas teras rumah bambu
lembah itu yang kau tuju
tempat anak sungai airmata berlabuh

siapa kini menjaga tanah yang lepuh?
angin berhembus makin asing
langit mengurung dengan warna murung
dan kaki kita telah lusuh
serupa dinding makam

tempat kubur sendiri
yang selalu lupa untuk di ziarahi

Monday, April 27, 2009

siang, secangkir teh di kedai kebun

jalan-jalan kususuri sambil menggendong matahari
seperti ada yang kucari, seperti ada yang ingin kutemui
hanya sesekali kucium aroma seperti harum tubuhmu,
meruap di antara gang kampung yang lengang
juga di sela bayang-bayang kerumunan

sudah sangat lama,
ada yang berubah ada yang tetap sama
ada yang hilang ada yang datang
aku menandainya, engkau meninggalkan tanda
lalu aku mengikutinya, tapi tak kutemukan petunjuk
aku berhenti, terdiam di pojok tandaku sendiri

apakah aku mencari, tapi seperti tak sungguh-sungguh mencari
tak sungguh-sungguh berharap, menemukan mu

kk, jogja 12/4/09

Thursday, March 19, 2009

konsisten dengan dua jalur saja!

setelah sejenak bisa sedikit bernafas lega dari rutinitas kepadatan kerja, saya mulai ingin menulis apa saja, sebenarnya ingin nulis puisi tapi rasanya kok ga ada inspirasi..hehe, ini bentuk pembelaan diri. di kepala saya melingkar-lingkar aneka peristiwa. peristiwa biasa saja, peristiwa yang ringan, yang ga penting. dalam beberapa kali postingan di republik facebook, saya telah memulai menulis sesuatu yang ringan, yang biasa, lintasan peristiwa yang saya dengar dan saya lihat, saat saya berangkat dan pulang kerja.

hampir beberapa minggu ini saya meninggalkan motor dan memilih naik angkutan umum ke kantor. disamping pingin sedikit nyantai, juga ada kemalasan bermacet-macet di musim kampanye seperti sekarang. pilihan utama adalah naik kereta, lama tak naik kereta eh rasanya nikmat juga, bisa terkantuk-kantuk sepanjang perjalanan. kenikmatan yang telah lumayan lama saya tinggalkan.

beruntung rumah saya di bekasi, tak jauh dari stasiun kereta. para pengguna kereta pasti mafhum, naik kereta hanya perlu kedisiplinan, kalau kita telat kereta tak bakal menunggu, meski kalau kita datang lebih dini sering pula kereta terlambat. “ya, lumrah namanya juga di Indonesia” kata calon penumpang disamping saya.

tidak seperti partai yang terus tumbuh berkembang biak. soal jalur rel kereta, dari sejak jaman belanda hingga 64 th merdeka ya tetap dua jalur. soal membangun rel kereta negeri ini memang konsisten. untuk mempertahankan tetap dua jalur saja..he..he….
sebenarnya sudah ada rencana membuat rel ganda tambahan untuk angkutan dari stasiun kota hingga cikampek. pembebasan lahan sudah dimulai jauh sebelum pak esbeye jadi presiden hingga pak esbeye hampir habis masa jabatannya. adanya rel ganda pasti akan banyak memberi manfaat, mengingat angkutan kereta khusus untuk aktifitas pelajar dan pekerja selama ini masih nebeng jalur antar kota, alias kereta-kereta ke jawa.

saat berangkat kerja, di dalam gerbong, sambil terkantuk-kantuk mata saya melihat pagar-pagar beton yang tampak memanjang dari lahan yang sudah di bebasakan di pinggir rel kereta. andai saja rel ganda tambahan itu sudah dicicil dibangun sejak lima tahun lalu pastilah sekarang sudah terbentang memanjang. cikampek toh hanya seratusan kilo.
adanya rel ganda tambahan akan membuat semakin banyak kereta angkutan menuju kota bisa dijalankan. artinya orang-orang pengguna kereta kebanyakan seperti saya bakal tak kerepotan lagi ketinggalan kereta. tak sampai lima menit telah tersedia kereta. kemacetan jalan bisa dikurangi, pertumbuhan ekonomi bisa semakin merata. karena masyarakat kecil bisa berniaga di setiap stasiun kereta, juga jasa penitipan kendaraan. pengangguran pun berkurang. anak-anak sekolah tak perlu bergelantungan di atas gerbong kereta. dan dikejar polisi pamong praja dengan pentungan.

kalau kita bisa membangun jalan tol hingga hampir ke seluruh pelosok pulau jawa, sungguh bertolak belakang dengan jalur rel kereta, tetap konsisten menggunakan warisan belanda.

sepertinya susah ya membangun rel kereta?, sepertinya belum ada caleg yang menjadikan ini janji kampanye ya? lumayan lho buat modal jualan..hehe

ada bacaannya!

setiap yang suka membaca, entah koran, majalah, tabloid, buku, atau berita lain lewat internet pastilah mereka menggemari bacaan yang berbeda. karena selera baca seperti juga lidah setiap orang sudah jamak kalau berlainan. selera baca juga sangat tergantung dengan kebutuhan. tergantung dengan profesi, status social, tingkat pendidikan, latar belakang social, kultur lingkungan dan lain-lain.

kebutuhan itu bisa sesuatu yang diinginkan atau tidak diinginkan. seorang pelajar atau mahasiswa membaca buku yang belum tentu disukainya tetapi lebih karena kebutuhan untuk bisa menjawab soal. berbahagialah seseorang yang bisa membaca sesuatu yang dibutuhkan sekaligus disukai.

dalam memulai setiap hal, terkadang kita butuh juga bacaan. dalam mengakhiri setiap kegiatan kitapun membaca bacaan. bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat kerja, ke pasar, juga saat kembali mau beranjak tidur.

di rumah saya setiap pagi kedatangan mpok minah. seorang perempuan kampung yang lugu dan jujur. seorang yang pasti tak suka membaca karena mpok minah buta huruf. mpok minah adalah tukang cuci keliling dari kampung belakang komplek perumahan tempat kami tinggal. mpok minah seorang janda yang ditinggal pergi suaminya kawin lagi. ia mesti menghidupi tiga anaknya yang masih kecil, untuk itu ia menjadi buruh cuci di beberapa rumah. dulu ia masih bisa mendapat uang tambahan dari menjadi buruh tani. tapi tahun ini penghasilan tambahan dari sawah berakhir sudah. developer pemilik lahan tak lagi mengijinkan areal sawahnya di tanami, karena disana segera akan dibangun perumahan real estate. sayapun tak lagi bisa melihat orang-orang menanam padi, hamparan hijau, kuning dan kesibukan panen. apa boleh buat…

ada sebuah peristiwa yang mengundang senyum berkaitan dengan bacaan. tetangga saya seorang wanita keturunan pernah tak habis heran. di bulan puasa mpok minah tetap semangat mengerjakan cucian dari satu rumah ke rumah lainnya. dari satu bakul cucian ke bakul cucian. dari pagi dini hari hingga terik siang. tanpa kenal lelah.
tetangga cina saya itu bertanya : “mpok puasa?” “lha iya” kata mpok dengan logat betawi kentalnya. “kok kuat sih, kerjaan segitu banyaknya? sambungya penuh heran. “oh. ntu, pan ada bacaannya nyah!” jawab mpok minah yakin di depan wajah tetangga cina saya yang makin ter heran-heran.

saya yakin, tetangga cina saya itu pasti sangat ingin tahu bacaan mpok minah.
sayapun yakin, sampeyan pasti tahukan apa yang di baca mpok minah?

pemilu lagi, kampanye lagi, siap-siap jalanan macet total...

beberapa bulan ini telah kita lihat sepanjang hari, saat berangkat kerja, ke pasar, antar anak sekolah, jalan-jalan pagi, pergi nonton, bayar tagihan listrik, telepon, juga saat pingin makan bubur ayam atau sate kambing kesukaan, aneka gambar bendera partai dan baliho rame-rame mejeng di pinggir jalan. pohon-pohon nyaris tak ada yang sepi dari atribut. pohon kecil, pohon besar semua mendadak berbuah aneka bendera dan poster. paku-paku menancapi batang tubuhnya, tiang-tiang bambu yang diikat bendera mendadak menyembul dari rindang daunnya. tiang-tiang listrik dan telepon pun jadi sasaran paling empuk untuk sarana mengibarkan bendera dan poster dengan berbagai ukuran, dengan berbagai macam tulisan berisi bujukan.

jelas, bendera-bendera partai tengah berebut perhatian. berlomba-lomba menempati area ketinggian. kearah mana kita melihat, mata kitapun dicegat bendera. ke kiri bendera, ke kanan bendera, ke belakang bendera, ke depan bendera, ke ataspun bendera, ke bawah juga bendera (tentu saja kalau kita sedang berada di ketinggian, di puncak gunung atau di atas gedung).

rupanya, mata kita yang telah dipaksa melihat aneka gambar partai dan wajah ganteng juga sangar para caleg itu belum sepenuhnya bisa istirahat. karena tak hanya di pinggir jalan keaneka ragaman gambar itu akan menyandera mata, kini saat saat berangkat kerja, ke pasar, antar anak sekolah, jalan-jalan pagi, pergi nonton, bayar tagihan listrik, telepon, juga saat pingin makan bubur ayam atau sate kambing kesukaan, mata kita pun mesti siap-siap melihat aneka gamber itu melekat di kios-kios, topi, topeng, rambut, celana, jacket, ikat kepala, yang tumpah ruah di atas motor, mobil dan truk menyesaki jalanan.

“tak apalah, inikan pesta demokrasi, pemilu semoga bisa membawa kebaikan bagi negeri ini” celetuk seorang teman

jadi, mari kita berbesar hati, perbanyak sabar saat terkena macet di jalan..hehe
siapa tahu makin memantabkan pilihan tanggal 9 april nanti, berniat ikut mencontreng kan sampeyan?

dua bulan ke depan, bakal banyak keluyuran orang gila di jalanan

pemilu, bukan sarana pembuat pilu bukan?

ga terasa tahu-tahu udah masuk musim kampanye terbuka. artinya partai-partai politik yang jumlahnya lusinan itu bakal bergiliran menyajikan berbagai kue janji yang dirasa paling gurih dan enak untuk memikat masyarakat. berbagai cara akan mereka lakukan, mulai dari orasi, jogetan dipanggung, keluar masuk pasar, dan ada juga yang kampanye di tengah petani yang lagi panen padi, mirip insinyur pertanian yang lagi ngasih penyuluhan. semuanya itu dilakukan demi dapat meraih simpati. saya baca di koran malah ada caleg yang berdandan ala ketoprakan berorasi sambil membagi sticker kepada para pengguna jalan. ya beragam cara dilakukan, namanya juga untuk mendapatkan sebanyak mungkin dukungan. meskipun terkadang terasa menggelikan dan memelas… apa boleh buat. sungguh terjal jalan para caleg untuk bisa meraih kursi idamannya. kalau di pemilu 2004 tidak mengenal parliamentary treshold, di pemilu 2009 ada syarat ini, yaitu minimal 2.5 % suara. apalagi kalau ia menjadi caleg dari partai yang baru pertama kali ikut pemilu, disamping berjuang untuk meraih minimal 2,5 persen suara partainya, ia pun juga harus berjuang untuk dirinya sendiri.

jaman saya masih ikutan kampanye dulu, partai cuma ada tiga peserta, sekarang wah naudubillah banyaknya, saya berani bertaruh pasti hanya sedikit orang yang hapal semua nama-nama partai peserta pemilu 2009. kalau dulu di jalanan yang terlihat hanya gambar tiga kontestan, karena kita hanya memilih partai saja dan jumlahnya juga cuma tiga. maka di era pemilihan langsung tahun 2004, kita melihat jalanan makin riuh dengan wajah capres dan calon dpd (dewan perwakilan daerah). lalu di tahun 2009 bisa dibayangkan semakin riuh dan ramainya pemandangan sepanjang jalan, baik jalan protokol, sampai jalan komplek dan gang-gang di perkampungan dengan berbagai atribut gambar dari lusinan partai dan ratusan ribu bahkan mungkin mencapai jutaan wajah caleg.

Inilah kekhawatiran yang sangat mungkin beralasan. jutaan caleg harus bertarung, sementara kursi yang tersedia hanya puluhan ribu. tentu saja, bakal banyak sekali caleg yang tak terpilih akan merasa kecewa, stress akibat terlilit utang dan menanggung rasa malu, yang berakibat bisa mengancam kejiwaan. tak heran departemen kesehatan menyiagakan seluruh rumah sakit jiwa untuk bersiap-siap mengantisipasi banjirnya pasien. ternyata musim penyakit ga cuma flu burung atau DBD. dua bulan kedepan kalau sampai RSJ tak bisa menampung pasien, bakal banyak keluyuran orang gila di jalanan.

omong-omong, sampeyan sudah punya pilihan?

ada yang menggenang

di teras waktu, kunikmati rintik-rintik rindu
kenangan berjatuhan menikam bungkam
mengalir ke parit-parit sepi, menetap ke hilir sunyi
masih ada yang menggenang, doa juga harapan

Tuesday, February 10, 2009

bahagiakah tuhan?

ber abad-abad tersesat
ditemukannya jalan pulang
kampung perawan, rumah bilik impian

degup jantung, debar dada,
getar jemari ringkih, meraih gerendel pintu papan,
merayap, mengendap pelan, teramat pelan
tak kuasa mengusik kebahagiaan sunyi
ia tengah masyuk bercinta dengan malam

lalu matamu berubah bening serupa hening
wajahmu mekar serupa fajar

tuhan terlelap di atas dipan
senyum wajahnya teramat memikat
kau pun tak kuasa untuk tak mendekat

apakah ia menungguku?
apakah ia merindukanku?
tanyamu penuh ragu

ber abad-abad lalu,
saat ia terlelap di atas pembaringan
diam-diam telah kau curi wajahnya
“aku ingin bahagia, maka kucuri wajahnya”
katamu memberi alasan
kau pun menjelma tuhan
menebar perintah dan larangan
menyebar fatwa halal haram

“menjadi tuhan tak bahagia”, sesalmu
“aku ingin pulang”, harapmu

akhirnya kau temukan jalan pulang
kampung perawan, rumah bilik impian

“apakah tuhan bahagia?”
gumammu di samping dipan

setetes air jatuh dari genting menimpa kening
sepasang mata terbuka, punggung jemari menyeka
“ah, hanya mimpi!”

lalu, sedang apakah tuhan?

AL, kita memburu jejak berabad
tinggal buih diatas karang, teramat lengang
geliat butir pasir terengah bermandi cahaya siang

kita terlambat,
mereka telah dijemput selepas subuh tadi
sebelum matahari menangkap wajah dukanya
yang berselimut gelap

batang-batang kelapa merunduk

kau pasti tak mendengar di antara kerumunan
ada yang mendesak dari rongga dada
menjelma isak dan sedu sedan

waktu yang hilang,
kita semakin banyak tertinggal
oleh peristiwa yang berloncatan sederas hujan
fragmen dalam banyak bingkai di satu arah pandangan
saling tindih , kita hanya meraba, mencoba mencerna
menjulurkan tangan menggapai
hanya kosong
tinggal rintih angin dan tangis bayang-bayang

waktu yang hilang,
negeri yang tak alpa dirundung bencana
kesedihan bagai lembar kertas beterbangan
dalam meja kerja, mata masih terpana pada layar kaca, keyboard
dan secangkir teh atau kopi yang tak pernah penuh kita reguk
kecuali uap panasnya yang segera hilang
dihirup udara berpendingin dan musim yang buruk

ayo AL, bangun sibaklah selimut
ada yang menunggu sore ini
dalam gigil hujan disertai badai
di antara ribuan pasang mata
seperti ada wajahku dan wajahmu di sana
terpuruk dalam tenda-tenda

lalu
sedang apakah tuhan ?

ayo AL, bergegaslah!

2008

hanya angka-angka, tak ada persemayaman, tak ada upacara, tak ada tanda bekas duka, tanggal di tengah pesta

Tuesday, December 23, 2008

Tak ada salahnya mimpi di siang bolong bukan?

Desember 2008 sudah di penghujung batas. Tahun akan segera berganti angkanya. Sementara di kepala saya masih dipenuhi lingkaran peristiwa. Membaca, melihat beragam drama di setiap belahan dunia membuat saya miris. Apakah yang mereka (para penguasa dunia) inginkan sebenarnya?, tengah membangun sebuah peradaban dunia baru atau tengah menciptakan ke chaos an baru?.

Persoalan pemanasan global telah turut memperparah nasib manusia. Dalam laporannya Oxtam (Organisasi bantuan internasional) kepada PBB, menyebutkan angka 971 juta orang kelaparan sampai desember 2008 ini dan akan terus bertambah. Penyebabnya kenaikan harga-harga akibat krisis global dan berkurangnya lahan pertanian terutama di Afrika dan Asia karena perubahan iklim akibat pemanasan global. Sebuah sumber mengatakan di Asia setiap 5 detik 1 orang mati kelaparan. Bahkan saya melihat berita di TV, di Makasar seorang ibu mati kelaparan demi merelakan jatah makan harian yang hanya cukup untuk ke tiga anaknya yang kelaparan.

Saya juga makin mafhum saja, kalo pada sebuah berita di televisi seorang presiden penguasa dunia yang bakal pensiun dan tengah mengucapkan kata perpisahan itu, tiba-tiba melayang sepasang sepatu ke wajahnya. Untung saja sang presiden negeri adidaya itu bisa berkelit. Ke mafhuman saya tentu saja beralasan. Sang presiden itu sebelumya pernah membuat pernyataan yang sungguh mengagetkan. “Adalah kesalahan Intelijen kami, bahwa ternyata Irak tidak benar-benar memiliki senjata pemusnah masal”.

Bayangkan, sebuah negara adidaya yang mempunyai kecanggihan sistem membuat kesalahan kebijakan karena kekeliruan laporan intelijennya. Kekeliruan bahwa negeri yang menjadi target agresinya sebenarnya tidak mempunyai senjata pemusnah masal, seperti yang selama ini dijadikan alasan untuk menindasnya. Dan kesalahan itu harus ditebus tidak hanya dengan raibnya milliaran dollar untuk dana perang tapi juga mengakibatkan jutaan orang mati dan ratusan ribu cedera. Maka tak urung efek domino dari kesalahan kebijakan itu membuat sang adidaya nyaris bangkrut. Sehingga perlu meminta belas kasihan negara-negara teluk sekutunya untuk menyumbang dana agar ekonominya tidak tiarap. Perang selalu mengakibatkan kesengsaraan bagi yang kalah juga bagi yang merasa dirinya menang.

Sepertinya awal tahun 2009 ini, saya masih akan merasakan masa-masa dunia yang tetap kelam, dunia hanya sedikit terhibur dengan terpilihnya Obama sebagai presiden baru sang adikuasa. Semoga masyarakat Indonesia yang masih megap-megap dililit persoalan krisis multidimensi ini masih sedikit mendapat hiburan dengan munculnya figur baru sebagai pemimpin mereka pada pilpres 2009.
Ah tak ada salahnya mimpi di siang bolong bukan?

Catatan desember 2008