AL, kita memburu jejak berabad
tinggal buih diatas karang, teramat lengang
geliat butir pasir terengah bermandi cahaya siang
kita terlambat,
mereka telah dijemput selepas subuh tadi
sebelum matahari menangkap wajah dukanya
yang berselimut gelap
batang-batang kelapa merunduk
kau pasti tak mendengar di antara kerumunan
ada yang mendesak dari rongga dada
menjelma isak dan sedu sedan
waktu yang hilang,
kita semakin banyak tertinggal
oleh peristiwa yang berloncatan sederas hujan
fragmen dalam banyak bingkai di satu arah pandangan
saling tindih , kita hanya meraba, mencoba mencerna
menjulurkan tangan menggapai
hanya kosong
tinggal rintih angin dan tangis bayang-bayang
waktu yang hilang,
negeri yang tak alpa dirundung bencana
kesedihan bagai lembar kertas beterbangan
dalam meja kerja, mata masih terpana pada layar kaca, keyboard
dan secangkir teh atau kopi yang tak pernah penuh kita reguk
kecuali uap panasnya yang segera hilang
dihirup udara berpendingin dan musim yang buruk
ayo AL, bangun sibaklah selimut
ada yang menunggu sore ini
dalam gigil hujan disertai badai
di antara ribuan pasang mata
seperti ada wajahku dan wajahmu di sana
terpuruk dalam tenda-tenda
lalu
sedang apakah tuhan ?
ayo AL, bergegaslah!