Thursday, July 01, 2010

Silaturahmi Sastra di Reboan




Silahturami Sastra di Reboan
Jumat, 2 Juli 2010 | 02:48 WIB
dok.sastra reboan

Sebagai suatu komunitas, Sastra Reboan menarik untuk dipelajari dan dibawa ke daerah untuk bisa dikembangkan. Tidak hanya sebagai ajang silahturahmi yang membuka sekian pintu sastra yang ditutup oleh orang-orang tertentu, tapi juga untuk membuka cakrawala baik dari yang ada di daerah ke Indonesia, ataupun yang ada di Indonesia ke luar Indonesia dan sebaliknya.

“Jadi tidak menutup kemungkinan Sastra Reboan akan menghadirkan sastrawan asing, atau sebaliknya”, kata penyair terkenal dari Gresik, Jawa Timur, Mardi Luhung setelah membacakan puisinya di Sastra Reboan #27, kemarin (30/06). Hal itu dikatakan Mardi Luhung di panggung menjawab pertanyaan Budhi Setyawan yang menjadi MC dan kepada Ketua Sastra Reboan, Johannes Sugianto dalam perjalanan pulang selesai acara.

Ketika diberitahu bahwa April 2009 lalu sebanyak 20 sastrawan dari Malaysia datang ke Indonesia dipimpin dr.Irwan Abu Bakar, setelah sebelumnya Dato’ Ahmad Kemala juga hadir di Reboan, Mardi Luhung yang baru meluncurkan bukunya terbaru “Ciuman Bibirku yang Kelabu” mengatakan “Itu yang menarik dan kita harapkan. Jadi selalu ada pintu lain yang dibuat”.

Penyair yang karyanya sudah banyak dimuat di berbagai media ini menyarankan jika perlu di akhir tahun ada buku yang diterbitkan oleh Sastra Reboan, yang terkait dengan acara selama setahun, semacam jurnal. Isinya bisa tentang puisi, prosa, foto, kliping berita dan wawancara yang diseleksi dengan standar yang ada. Pasti asyik, tambahnya.

Sastra Reboan ke 27 yang mengusung tema “Juni yang Penuh Rencana” tidak hanya menampilkan penyair ternama seperti Mardi Luhung tapi juga Sapardi Djoko Damono yang menulis puisi legendaris “Hujan Bulan Juni”, artis Cornelia Agatha dan penyair lainnya, selain penggemar sastra yang mendapat kesempatan tampil membaca karyanya. Selain itu juga berlangsung diskusi buku “Kabut Pantai Anyer” karya Anny Djati Waluyo dengan pembahas Aurelia Tiara dan Ilenk Rembulan.

Selain itu, dalam Sastra Reboan kali ini juga banyak yang pertama. Seperti Ruth Meinila yang pertama kalinya tampil di sebuah panggung sastra. Sedang Cornelia Agatha, Johnnie Kirman, Iman, Mardi Luhung, Ira Ginda, Josephine Maria dan Diana yang baru pertama kali tampil di panggung Reboan.

Acara diawali dengan penampilan Chicken Crispy Band yang mengusung musik rock, sebelum Ruth Meynala membaca karyanya “Permata Hatiku” yang dipersembahkan untuk ketiga puterinya. Disusul Iman, seorang guru bahasa Inggris dengan puisi “Ideal” dan “Lone Saturday” dan Johnnie Kirman (arsitek yang tinggal di Tangerang) membaca “ Hijaunya Membara”. Berikutnya tampil Kartika DIana Hade Putri, mahasiswa STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) yang menampilkan monolog dari puisi “Sebelum Fajar” karya Sapardi Djoko Damono. Penampilan pembuka, pembacaan puisi dan monolog ini segera menghangatkan suasana di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan malam itu.

Sejak pukul 19.00 pengunjung mulai mengalir. Sapardi Djoko Damono datang lebih awal. “Biar tidak kena macet,”katanya sambil memesan nasi goreng dan jahe panas, setelah bertanya apakah ada bajigur atau tidak. Penulis lainnya yang berdatangan antara lain Kurnia Effendi, Kurniawan Djunaedi, cerpenis Rama Dira J (terpilih dalam 10 cerpenis terbaik Kompas, termasuk juga Mardi Luhung), Jodhi Yudhono, Endo Senggono, Ags Arya Dipayana, Irmansyah dan para penulis muda yang belakangan makin bermunculan.

Menulis Saja

Bincang-bincang sastra kali ini diisi dengan pembahasan novel kedua Anny Djati “Kabut Pantai Anyer” (KPA) . Wanita pengusaha daging impor ini menulis novel bertema pembunuhan. Ditengah kesibukan bisnisnya dan fungsinya sebagai isteri Djati Wlauyo, konsultan jalan tol, dan ibu dua anak ini, dia masih sempat menulis. Ini berkat kesukaannya membaca buku sejak kecil, mendirikan taman bacaan bersama teman-temannya dan menjadi wartawati suatu majalah. Karya pertama Anny (57) berjudul “Dilema Perempuan” diterbitkan tahun 2008.

Anny Djati sendiri mengakui belum pernah membuat tema pembunuhan seperti dalam novel keduanya ini, meski ia suka cerita dan film kriminal seperti karya Agatha Christie. Atas dorongan teman-temannya, dibantu seorang intel, ia mencoba menulis cerita yang akhirnya menjelma dalam KPA yang bertutur tentang perempuan usia 27 tahun dari keluarga bahagia tapi ternyata semu dan penuh pergulatan akan dendam hingga terjadi pembunuhan terhadap adiknya.

Bagi Aurelia Tiara Widjanarko yang menjadi pembahas novel ini bersama Ilenk Rembulan, selain kaya data dalam KPA juga terasa penokohannya yang moderen sekali. Sedang Ilen, yang merasa salut atas keberanian Anny mengambil tema pembunuhan, melihat warna yang lebih maskulin dibanding buku pertamanya. Menurut Anny, hal ini merupakan suatu pilihan, dan dalam tema pembunuhan ini maka dibuat lebih “laki-laki” dibanding buku pertamanya.

Sedangkan Ita Siregar, cerpenis yang mendapat kesempatan bertanya, berpendapat bahwa penulis tidak membebaskan tokoh-tokohnya melakukan tindakannya, tetapi seolah didalangi oleh penulis sendiri dalam alur cerita yang bagus.Hal ini ditanggapi oleh Anny, bahwa penulis memang menentukan nasib para tokoh, dan ini dipengaruhi oleh unsur ‘si aku”. Adanya penjelasan yang terkesan sangat rinci dalam KPA, bisa jadi karena banyak berkonsultasi dengan pihak kepolisian untuk melengkapi data yang ada.

“Bagaimanapun, penulisan dua novel ini merupakan pembelajaran yang sangat berharga”, kata Anny Djati yang sedang mempersiapkan buku ketiganya. Di ahir bincang-bincang ini, Aurelia Tiara yang juga penyair dan host di TVRI membacakan cuplikan novel KPA.

Malam terus bergulir. Mardi Luhung yang datang bersama isterinya langsung menghentak dengan pembacaan puisinya “Dari Jalanan”, diikuti “Orang yang Ber Tuhan Jelek”, bertutur tentang Sumanto, pelaku kejahatan yang memakan daging korbannya. Pengunjung yang makin memenuhi Wapres meminta tambahan puisi kepada Hendry, panggilan akrab Mardi Luhung. Lelaki kelahiran Gresik, 5 Maret 1965 ini memenuhi permintaan itu dengan membaca “Gresik 18” tentang nasih Gresik di masa mendatang.

Pembacaan puisi terus belanjut. Kali ini dua penyair yang baru meluncurkan karyanya bersama penyair lainnya dalam “Tarian Ilalang” tampil berurutan yaitu Ira Ginda membawakan “Pejalan”, “Mantra Waktu” dan “Wajah Bapak Ibuku” serta Jospehine Maria yang berduet dengan Jack dalam “Dua Rupa yang Terlupa” dan sebuah karya Ade Rizal.

Penggiat sastra dan penyair Ira Ginda alias Ira Pelitawati membaca karya temannya “Pejalan” dan “Mantera Waktu”, Wajah Bapak Ibuku” . Pembacaan berikutnya oleh duet Josephine Maria dan Jack alias Jakaria bin H Masan membacakan puisi ciptaan Josephine "Dua Rupa yang Terlupa" dan sebuah karya Ade Rizal.

Lalu penampilan yang ditunggu-tunggu, selain Mardi Luhung dan Cornelia Agatha, adalah Sapardi Djoko Damono yang juga guru besar Universitas Indonesia, dalam perbincangan yang dipandu Kurnia Effendi. Dengan penampilan sederhana, bercelana jeans biru,baju putih dan jaket coklat sastrawan besar ini menjawab pertanyaan Kef, panggilan Kurnia Effendi dengan santainya.

Tentang ‘Hujan Bulan Juni”, Sapardi dengan tenangnya mengatakan, hujan di Juni ini bukan lagi misteri karena hujan sudah datang di bulan Juni. Seniman bukan orang yang membaca masa depan, kalau begitu kan saya bisa jadi ketua Badang Meteorologi dan Geofisika. Ucapan lelaki sederhana ini disambut tertawa dan tepuk tangan.

Soal “waktu”, ia juga mengatakan bahwa waktu itu kita yang menciptakan, dan itu akan terus berubah. Kita yang membuat hari, membuat jam. Waktu itu tidak ada. Waktu itu dibuat oleh orang, dan kita tidak dapat membuat waktu.

Pesannya untuk penulis, menjawab pertanyaan Kef, pujangga kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940 ini mengingatkan masih sedikitnya toko buku saat ini dibanding karya yang ada. Komunitas adalah forum yang bagus untuk memasarkan atau memamerkan karya-karya kita, sesuatu yang tak diminati oleh toko-toko buku. Penulis juga menemukan pembacanya lebih terbuka lewat komunitas.

Menjawab pertanyaan salah satu pengunjung tentang puisi yang dimusikkan, Sapardi mengatakan bahwa puisi diadaptasi ke teater dan musik itu hanya alih wahana saja. Puisi itu sebenarnya adalah bunyi oleh karena itu puisi bisa dibuat menjadi musik atau lagu. Elemen yang bagus ada rima seperti puisi Amir Hamzah. Tetapi musik tak bisa diubah menjadi puisi karena tak mempnuyai kata-kata. Puisi adalah harmoni antar abunyi dan bentuk. Memindahkan bunyi kedalam kata-kata menjadi karakter yang bermakna-makna. Puisi itu menuntut bunyi karena harus dibaca. Parameter puisi bagus adalah dari diri si penulis sendiri.

“Jika ditanya tentang menulis, saya hanya menulis. Perkara jadi puisi ya biarlah jadi puisi, begiut juga jika nanti jadinya prosa. Menulis saja”, katanya mengakhiri bincang-bincang yang sayangnya masih juga terganggu oleh obrolan sebagian pengunjung.

Acara terus berjalan, kali ini menampilkan Restoe Ibrahim Prawiranegara yang membaca karyanya berjudul ”Nestapa” dan ”Potret Buram” diiringi petikan gitar dan harmonika Rian Gabo. Dilanjutkan dengan Dian M Balqis yang membawakan "Hingga Nafas Terhenti." yang merupakan salah satu lagu dari album yang sedang digarapnya.

Di akhir acara, sebelum Susy Ayu yang baru melemparkan buku puisinya “Rahim Kata-Kata” membaca “Laki-laki yang Mencariku” dan “Perempuan-Perempuan”, artis cantik yang populer lewat sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”, Cornelia Agatha membaca sebuah puisi karya Moamar Emka, “Jiwa-jiwa yang Patah”. Puisi ini dibawakan dengan penuh penghayatan dan menawan. “Puisi ini saya persembahkan untuk kekasih saya, orang yang membuat saya jatuh cinta dengan puisi. Puisi ini untuk Sapardi Djoko Damono”, ucap Lia, panggilan Cornelia, yang disambut tepuk tangan meriah dan senyum oleh Sapardi.

Lia kemudian bermusikalisasi puisi dengan Yuyun, penyanyi yang bersuara seksi dan indah, dalam “Akulah Puisi” karya Lulu Ratna dengan latar musik disco. Penonton seperti tak beranjak dari tempat duduknya, apalagI ketika Lia melanjutkan penampilannya dalam “Rose” karya Ridha K.Liamsi yang dibawakan dalam hentakan musik campuran gamelan Bali dan rock.

Klimaks malam ini diisi oleh Cornelia Agatha dengan membaca sendiri "Jiwa-Jiwa yang Patah" karya Moamar Emka dilatari alunan musik gitar. Puyisi itu khusus ia bacakan untuk SDD. Diteruskan dengan duet musikalisasinya bersama Yuyun "Akulah Puisi" karya Lulu ... dengan latar musik disco dan backsound Yuyun. Duet bunyi-bunyi puisi yang cantik dan seksi ini sangat memesona penonton. Hentakan musik campuran gamelan Bali dan musik rock, disco mengiringi "Rose" karya Ridha K Liamsi oleh pembacaan Lia, panggilan akrab Cornelia, dan backsound Yuyun. Penampilan luar biasa.

Sastra Reboan ke 27 ini ditutup oleh MC Budhi "Buset' Setyawan dengan membacakan puisi karyanya sendiri "Perempuan yang Tertawa pada Hujan" yang ditujukan untuk Mardi Luhung dan Cornelia Agatha. (ochi/gie)

Thursday, March 19, 2009

konsisten dengan dua jalur saja!

setelah sejenak bisa sedikit bernafas lega dari rutinitas kepadatan kerja, saya mulai ingin menulis apa saja, sebenarnya ingin nulis puisi tapi rasanya kok ga ada inspirasi..hehe, ini bentuk pembelaan diri. di kepala saya melingkar-lingkar aneka peristiwa. peristiwa biasa saja, peristiwa yang ringan, yang ga penting. dalam beberapa kali postingan di republik facebook, saya telah memulai menulis sesuatu yang ringan, yang biasa, lintasan peristiwa yang saya dengar dan saya lihat, saat saya berangkat dan pulang kerja.

hampir beberapa minggu ini saya meninggalkan motor dan memilih naik angkutan umum ke kantor. disamping pingin sedikit nyantai, juga ada kemalasan bermacet-macet di musim kampanye seperti sekarang. pilihan utama adalah naik kereta, lama tak naik kereta eh rasanya nikmat juga, bisa terkantuk-kantuk sepanjang perjalanan. kenikmatan yang telah lumayan lama saya tinggalkan.

beruntung rumah saya di bekasi, tak jauh dari stasiun kereta. para pengguna kereta pasti mafhum, naik kereta hanya perlu kedisiplinan, kalau kita telat kereta tak bakal menunggu, meski kalau kita datang lebih dini sering pula kereta terlambat. “ya, lumrah namanya juga di Indonesia” kata calon penumpang disamping saya.

tidak seperti partai yang terus tumbuh berkembang biak. soal jalur rel kereta, dari sejak jaman belanda hingga 64 th merdeka ya tetap dua jalur. soal membangun rel kereta negeri ini memang konsisten. untuk mempertahankan tetap dua jalur saja..he..he….
sebenarnya sudah ada rencana membuat rel ganda tambahan untuk angkutan dari stasiun kota hingga cikampek. pembebasan lahan sudah dimulai jauh sebelum pak esbeye jadi presiden hingga pak esbeye hampir habis masa jabatannya. adanya rel ganda pasti akan banyak memberi manfaat, mengingat angkutan kereta khusus untuk aktifitas pelajar dan pekerja selama ini masih nebeng jalur antar kota, alias kereta-kereta ke jawa.

saat berangkat kerja, di dalam gerbong, sambil terkantuk-kantuk mata saya melihat pagar-pagar beton yang tampak memanjang dari lahan yang sudah di bebasakan di pinggir rel kereta. andai saja rel ganda tambahan itu sudah dicicil dibangun sejak lima tahun lalu pastilah sekarang sudah terbentang memanjang. cikampek toh hanya seratusan kilo.
adanya rel ganda tambahan akan membuat semakin banyak kereta angkutan menuju kota bisa dijalankan. artinya orang-orang pengguna kereta kebanyakan seperti saya bakal tak kerepotan lagi ketinggalan kereta. tak sampai lima menit telah tersedia kereta. kemacetan jalan bisa dikurangi, pertumbuhan ekonomi bisa semakin merata. karena masyarakat kecil bisa berniaga di setiap stasiun kereta, juga jasa penitipan kendaraan. pengangguran pun berkurang. anak-anak sekolah tak perlu bergelantungan di atas gerbong kereta. dan dikejar polisi pamong praja dengan pentungan.

kalau kita bisa membangun jalan tol hingga hampir ke seluruh pelosok pulau jawa, sungguh bertolak belakang dengan jalur rel kereta, tetap konsisten menggunakan warisan belanda.

sepertinya susah ya membangun rel kereta?, sepertinya belum ada caleg yang menjadikan ini janji kampanye ya? lumayan lho buat modal jualan..hehe

ada bacaannya!

setiap yang suka membaca, entah koran, majalah, tabloid, buku, atau berita lain lewat internet pastilah mereka menggemari bacaan yang berbeda. karena selera baca seperti juga lidah setiap orang sudah jamak kalau berlainan. selera baca juga sangat tergantung dengan kebutuhan. tergantung dengan profesi, status social, tingkat pendidikan, latar belakang social, kultur lingkungan dan lain-lain.

kebutuhan itu bisa sesuatu yang diinginkan atau tidak diinginkan. seorang pelajar atau mahasiswa membaca buku yang belum tentu disukainya tetapi lebih karena kebutuhan untuk bisa menjawab soal. berbahagialah seseorang yang bisa membaca sesuatu yang dibutuhkan sekaligus disukai.

dalam memulai setiap hal, terkadang kita butuh juga bacaan. dalam mengakhiri setiap kegiatan kitapun membaca bacaan. bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat kerja, ke pasar, juga saat kembali mau beranjak tidur.

di rumah saya setiap pagi kedatangan mpok minah. seorang perempuan kampung yang lugu dan jujur. seorang yang pasti tak suka membaca karena mpok minah buta huruf. mpok minah adalah tukang cuci keliling dari kampung belakang komplek perumahan tempat kami tinggal. mpok minah seorang janda yang ditinggal pergi suaminya kawin lagi. ia mesti menghidupi tiga anaknya yang masih kecil, untuk itu ia menjadi buruh cuci di beberapa rumah. dulu ia masih bisa mendapat uang tambahan dari menjadi buruh tani. tapi tahun ini penghasilan tambahan dari sawah berakhir sudah. developer pemilik lahan tak lagi mengijinkan areal sawahnya di tanami, karena disana segera akan dibangun perumahan real estate. sayapun tak lagi bisa melihat orang-orang menanam padi, hamparan hijau, kuning dan kesibukan panen. apa boleh buat…

ada sebuah peristiwa yang mengundang senyum berkaitan dengan bacaan. tetangga saya seorang wanita keturunan pernah tak habis heran. di bulan puasa mpok minah tetap semangat mengerjakan cucian dari satu rumah ke rumah lainnya. dari satu bakul cucian ke bakul cucian. dari pagi dini hari hingga terik siang. tanpa kenal lelah.
tetangga cina saya itu bertanya : “mpok puasa?” “lha iya” kata mpok dengan logat betawi kentalnya. “kok kuat sih, kerjaan segitu banyaknya? sambungya penuh heran. “oh. ntu, pan ada bacaannya nyah!” jawab mpok minah yakin di depan wajah tetangga cina saya yang makin ter heran-heran.

saya yakin, tetangga cina saya itu pasti sangat ingin tahu bacaan mpok minah.
sayapun yakin, sampeyan pasti tahukan apa yang di baca mpok minah?

pemilu lagi, kampanye lagi, siap-siap jalanan macet total...

beberapa bulan ini telah kita lihat sepanjang hari, saat berangkat kerja, ke pasar, antar anak sekolah, jalan-jalan pagi, pergi nonton, bayar tagihan listrik, telepon, juga saat pingin makan bubur ayam atau sate kambing kesukaan, aneka gambar bendera partai dan baliho rame-rame mejeng di pinggir jalan. pohon-pohon nyaris tak ada yang sepi dari atribut. pohon kecil, pohon besar semua mendadak berbuah aneka bendera dan poster. paku-paku menancapi batang tubuhnya, tiang-tiang bambu yang diikat bendera mendadak menyembul dari rindang daunnya. tiang-tiang listrik dan telepon pun jadi sasaran paling empuk untuk sarana mengibarkan bendera dan poster dengan berbagai ukuran, dengan berbagai macam tulisan berisi bujukan.

jelas, bendera-bendera partai tengah berebut perhatian. berlomba-lomba menempati area ketinggian. kearah mana kita melihat, mata kitapun dicegat bendera. ke kiri bendera, ke kanan bendera, ke belakang bendera, ke depan bendera, ke ataspun bendera, ke bawah juga bendera (tentu saja kalau kita sedang berada di ketinggian, di puncak gunung atau di atas gedung).

rupanya, mata kita yang telah dipaksa melihat aneka gambar partai dan wajah ganteng juga sangar para caleg itu belum sepenuhnya bisa istirahat. karena tak hanya di pinggir jalan keaneka ragaman gambar itu akan menyandera mata, kini saat saat berangkat kerja, ke pasar, antar anak sekolah, jalan-jalan pagi, pergi nonton, bayar tagihan listrik, telepon, juga saat pingin makan bubur ayam atau sate kambing kesukaan, mata kita pun mesti siap-siap melihat aneka gamber itu melekat di kios-kios, topi, topeng, rambut, celana, jacket, ikat kepala, yang tumpah ruah di atas motor, mobil dan truk menyesaki jalanan.

“tak apalah, inikan pesta demokrasi, pemilu semoga bisa membawa kebaikan bagi negeri ini” celetuk seorang teman

jadi, mari kita berbesar hati, perbanyak sabar saat terkena macet di jalan..hehe
siapa tahu makin memantabkan pilihan tanggal 9 april nanti, berniat ikut mencontreng kan sampeyan?

dua bulan ke depan, bakal banyak keluyuran orang gila di jalanan

pemilu, bukan sarana pembuat pilu bukan?

ga terasa tahu-tahu udah masuk musim kampanye terbuka. artinya partai-partai politik yang jumlahnya lusinan itu bakal bergiliran menyajikan berbagai kue janji yang dirasa paling gurih dan enak untuk memikat masyarakat. berbagai cara akan mereka lakukan, mulai dari orasi, jogetan dipanggung, keluar masuk pasar, dan ada juga yang kampanye di tengah petani yang lagi panen padi, mirip insinyur pertanian yang lagi ngasih penyuluhan. semuanya itu dilakukan demi dapat meraih simpati. saya baca di koran malah ada caleg yang berdandan ala ketoprakan berorasi sambil membagi sticker kepada para pengguna jalan. ya beragam cara dilakukan, namanya juga untuk mendapatkan sebanyak mungkin dukungan. meskipun terkadang terasa menggelikan dan memelas… apa boleh buat. sungguh terjal jalan para caleg untuk bisa meraih kursi idamannya. kalau di pemilu 2004 tidak mengenal parliamentary treshold, di pemilu 2009 ada syarat ini, yaitu minimal 2.5 % suara. apalagi kalau ia menjadi caleg dari partai yang baru pertama kali ikut pemilu, disamping berjuang untuk meraih minimal 2,5 persen suara partainya, ia pun juga harus berjuang untuk dirinya sendiri.

jaman saya masih ikutan kampanye dulu, partai cuma ada tiga peserta, sekarang wah naudubillah banyaknya, saya berani bertaruh pasti hanya sedikit orang yang hapal semua nama-nama partai peserta pemilu 2009. kalau dulu di jalanan yang terlihat hanya gambar tiga kontestan, karena kita hanya memilih partai saja dan jumlahnya juga cuma tiga. maka di era pemilihan langsung tahun 2004, kita melihat jalanan makin riuh dengan wajah capres dan calon dpd (dewan perwakilan daerah). lalu di tahun 2009 bisa dibayangkan semakin riuh dan ramainya pemandangan sepanjang jalan, baik jalan protokol, sampai jalan komplek dan gang-gang di perkampungan dengan berbagai atribut gambar dari lusinan partai dan ratusan ribu bahkan mungkin mencapai jutaan wajah caleg.

Inilah kekhawatiran yang sangat mungkin beralasan. jutaan caleg harus bertarung, sementara kursi yang tersedia hanya puluhan ribu. tentu saja, bakal banyak sekali caleg yang tak terpilih akan merasa kecewa, stress akibat terlilit utang dan menanggung rasa malu, yang berakibat bisa mengancam kejiwaan. tak heran departemen kesehatan menyiagakan seluruh rumah sakit jiwa untuk bersiap-siap mengantisipasi banjirnya pasien. ternyata musim penyakit ga cuma flu burung atau DBD. dua bulan kedepan kalau sampai RSJ tak bisa menampung pasien, bakal banyak keluyuran orang gila di jalanan.

omong-omong, sampeyan sudah punya pilihan?

Tuesday, February 10, 2009

2008

hanya angka-angka, tak ada persemayaman, tak ada upacara, tak ada tanda bekas duka, tanggal di tengah pesta

Tuesday, December 23, 2008

Tak ada salahnya mimpi di siang bolong bukan?

Desember 2008 sudah di penghujung batas. Tahun akan segera berganti angkanya. Sementara di kepala saya masih dipenuhi lingkaran peristiwa. Membaca, melihat beragam drama di setiap belahan dunia membuat saya miris. Apakah yang mereka (para penguasa dunia) inginkan sebenarnya?, tengah membangun sebuah peradaban dunia baru atau tengah menciptakan ke chaos an baru?.

Persoalan pemanasan global telah turut memperparah nasib manusia. Dalam laporannya Oxtam (Organisasi bantuan internasional) kepada PBB, menyebutkan angka 971 juta orang kelaparan sampai desember 2008 ini dan akan terus bertambah. Penyebabnya kenaikan harga-harga akibat krisis global dan berkurangnya lahan pertanian terutama di Afrika dan Asia karena perubahan iklim akibat pemanasan global. Sebuah sumber mengatakan di Asia setiap 5 detik 1 orang mati kelaparan. Bahkan saya melihat berita di TV, di Makasar seorang ibu mati kelaparan demi merelakan jatah makan harian yang hanya cukup untuk ke tiga anaknya yang kelaparan.

Saya juga makin mafhum saja, kalo pada sebuah berita di televisi seorang presiden penguasa dunia yang bakal pensiun dan tengah mengucapkan kata perpisahan itu, tiba-tiba melayang sepasang sepatu ke wajahnya. Untung saja sang presiden negeri adidaya itu bisa berkelit. Ke mafhuman saya tentu saja beralasan. Sang presiden itu sebelumya pernah membuat pernyataan yang sungguh mengagetkan. “Adalah kesalahan Intelijen kami, bahwa ternyata Irak tidak benar-benar memiliki senjata pemusnah masal”.

Bayangkan, sebuah negara adidaya yang mempunyai kecanggihan sistem membuat kesalahan kebijakan karena kekeliruan laporan intelijennya. Kekeliruan bahwa negeri yang menjadi target agresinya sebenarnya tidak mempunyai senjata pemusnah masal, seperti yang selama ini dijadikan alasan untuk menindasnya. Dan kesalahan itu harus ditebus tidak hanya dengan raibnya milliaran dollar untuk dana perang tapi juga mengakibatkan jutaan orang mati dan ratusan ribu cedera. Maka tak urung efek domino dari kesalahan kebijakan itu membuat sang adidaya nyaris bangkrut. Sehingga perlu meminta belas kasihan negara-negara teluk sekutunya untuk menyumbang dana agar ekonominya tidak tiarap. Perang selalu mengakibatkan kesengsaraan bagi yang kalah juga bagi yang merasa dirinya menang.

Sepertinya awal tahun 2009 ini, saya masih akan merasakan masa-masa dunia yang tetap kelam, dunia hanya sedikit terhibur dengan terpilihnya Obama sebagai presiden baru sang adikuasa. Semoga masyarakat Indonesia yang masih megap-megap dililit persoalan krisis multidimensi ini masih sedikit mendapat hiburan dengan munculnya figur baru sebagai pemimpin mereka pada pilpres 2009.
Ah tak ada salahnya mimpi di siang bolong bukan?

Catatan desember 2008

Friday, December 12, 2008

sastro itu tetangga saya

sastro itu tetangga saya
tinggal di bawah atap kemerdekaan itu cita-citanya
setiap hari dia menghabiskan lebih sekilo arang
untuk memenuhi tembok kuburan dengan tulisan
"saya bukan milik siapa-siapa".

tapi orang-orang acuh-acuh saja.
tentu saja sastro berang,
karena sudah hampir seluruh usianya
dihabiskannya untuk melayani tuan-tuan
yang dengan senak wudelnya memaksanya
untuk tunduk bersimpuh pada telapak kakinya.

“kau bukan ibuku dan di kakimu tak ada surga"
teriak sastro keliyengan menenggak sebotol anggur ketan item
setiap kali usai menghabiskan sekilo arang
untuk memenuhi tembok kuburan.
tembok yang dia coret-coret dengan tulisan
"saya bukan milik siapa-siapa!.

sastro itu pernah jadi tetangga saya.
kini dia telah pergi entah kemana.
katanya dipaksa ikut tuannya ke negeri seberang.
di sana kau akan kami gaji dengan dollar,
bukankah kau ingin merdeka?, nah kemerdekaan butuh biaya.
di sini kau pasti hanya akan menderita dan mati sia-sia.
rupiah terus melemah.

itulah yang aku denger dari orang-orang.
sastro telah pergi. tulisan-tulisannya pada
tembok kuburan telah hilang. sejak tuan-tuan
memerintahkan untuk mengapurnya.

saya melihat di dalam kuburan,
pada sebuah makam, sastro masih sempat memahatkan
tulisan di batu nisan.
“jeng lastriku sayang, aku hanya milikmu seorang”

:)

Monday, April 14, 2008

PaSar maLaM

img530/9248/pasarmalamlogowebiv4.jpg

PaSar Malam
"banyak pintu menuju sastra"

menilik namanya setiap orang pasti akan punya kenangan ketika membaca dua kata itu. PaSar MaLamsebuah keramaian tradisional yang sudah ada sejak sebelum kota-kota dipenuhi mal-mal. Sebuah tradisi hiburan yang redup terang masih mencoba tetep bernafas di tengah-tengah kesumpekan, di tengah galau, keluh kesah, dan ketidak pastian nasib bangsa. Ekonomi yang tertatih, budaya yang kedodoran, teknologi yang gagap.

nah, lepas dari segala kepenatan itu, ada hal lain yang ingin saya sampaikan sehubungan dengan kata PaSar maLam itu. Yang saya maksud adalah PaSar MaLam yang ini rupanya adalah sebuah kegiatan seni khususnya sastra. PaSar MaLam disini kependekan dari Paguyuban Sastra Rabu Malam. Sebuah paguyuban yang lahir dari glenak-glenik antar teman sesama milis sastra. Saat itu seorang kawan Johanes Sugianto menawarkan tempat kosong di wapres untuk akhir bulan di hari Rabu. Maka setelah melalui proses pembicaraan beberapa kali, dimulai di wapres bulungan, di belakang Gelael. Terus puncaknya di warung Alex TIM malam itu : Zai Lawanglangit, Dino Umahuk, Yonathan Rahardjo, Johanes Sugianto, Dian Ilenk, Nina Yuliana, Sahlul Fuad, Gita Pratama dan Budi Setyawan sepakatlah kita membuat paguyuban itu.

Usai pertemuan saya mendapat tugas menggarap logo, nama paguyuban dan visi misi. Setelah beberapa kali menggagas nama, merancang logo dibantu kawan Deddy Triadi akhirnya ketemulah kata paSar maLam ini. Ketika disodorkan ke kawan-kawan, alhamdulillah mereka sepakat dan meng amini. Ya walhasil tinggal persoalan teknis yang harus kami siapkan untuk acara perdana PaSar MaLam yaitu tgl 30 April 2008, hari Rabu di Wapres Bulungan.

PaSar MaLam diharapkan menjadi oase, ajang, muara bagi setiap penggiat seni sastra untuk saling berbagi. Karena berlebel PaSar MaLam tentu saja paguyuban ini bersifat terbuka, tak ada sekat, kotak-kotak. Ibarat warung yang punya banyak pintu maka semua pintunya terbuka lebar bagi siapa saja. Anggotanya tentu saja lintas milis, lintas suku, bangsa, budaya, agama, lintas negara, lintas semesta
Pemilihan nama PaSar maLam tentu saja agar terkesan ringan, fun, dan unik untuk sebuah paguyuban sastra, diharapkan akan menjadikan komunitas ini jauh dari kesan eksklusif. Bahkan harapan kami sesuai tujuan paguyuban ini yaitu ingin mendekatkan sastra ke masyarakat kota, menjadikan sastra sebagai gaya hidup, budaya dan spirit kehidupan.
Semoga....

lawanglangit

Monday, November 19, 2007

Menyongsong Perhelatan Komunitas Sastra Cyber Kemudian.com

salam sastra,

Salah satu sahabat saya, Dino F. Umahuk, memberi tahu saya bahwa ia telah menulis pengantar resensi di Kemudian.com dengan kajiannya yang lumayan komplit seputar dunia sastra cyber, sejarah dan fenomenanya. Maka di tengah kesibukan menyelesaikan program proposal saya tergugah untuk ikut sedikit memberikan catatan pengantar.

Seperti beberapa waktu lalu saat saya membuka milis Bunga Matahari, menyimak milis kemudian.com seperti menjejakkan kaki ke dunia penuh warna. Dunia anak-anak muda dengan tulisan-tulisan mereka yang spontan, berani dan penuh semangat. Saya seakan sedang membayangkan berjalan-jalan di sebuah mall dengan dinding-dinding berhiaskan lukisan kata-kata. Begitu lugas, sederhana dan terkadang apa adanya. Tulisan-tulisan mereka begitu dinamis. Ungkapan perasaan jiwa sedih atau gembira hadir tetap dengan warna kesegarannya. Seperti obrolan mereka di kantin sekolah, kedai kampus atau cafe-cafe.

Saya tidak sedang ingin memperdebatkan apakah karya-karya mereka sudah memiliki kualitas karya sastra. Bagi saya tidak penting. Kemauan dan keberanian menulis serta mempublikasikan tulisan dalam sebuah komunitas milis, lalu di apresiasi oleh teman-temannya sudah merupakan awal sebuah proses yang baik. Semakin sering menulis, keterampilan memilih dan memilah kata dengan sendirinya akan terus terasah. Semakin banyak pergulatan dalam interaksi sosial, akan makin mematangkan jiwa dan memungkinkan mereka mampu menuangkannya dalam beragam tema. Tentu saja nantinya tema sesederhana apapun akan tetap hadir dengan padat, dalam dan dengan kesegarannya.

Menilik nama situs “Kemudian.com” saya sedang menduga-duga. Mungkin pemilihan nama ini memang berangkat dari kesadaran bahwa mereka sedang berproses, melatih diri, mengembangkan kemampuan menulisnya. Kesadaran untuk berproses tanpa merasa digurui membuat siapa saja yang menjadi anggota di dalamnya tetap dapat mengekspresikan perasaan dengan enjoy dan tanpa beban.

Ya, pada dasarnya betapa menyenangkan dapat menulis tanpa merasa terikat kaedah-kaedah yang rumit. Biarlah sementara ada pihak-pihak yang merasa paling memahami bahasa sastra. Lalu menghadirkan sajak-sajak rumit dan pelik dalam media cetak bergengsi. Yang kadang-kadang saya pun sering mengernyitkan dahi membacanya.

Di awal-awal saya menulis, lewat seorang teman, sajak-sajak saya diresensi oleh
Sitor Situmorang
. Saat saya ketemu dengan beliau dan bertanya apakah itu puisi?
Beliau menjawab, “Puisi bukan dakwah para biksu, pendeta atau ustad, puisi akan menjadi puisi jika ia tidak menyimpulkan apalagi menggurui, puisi akan menjadi puisi jika ia mampu menjadi bahan renungan dan inspirasi bagi setiap pembacanya.”

Ada hal menarik yang patut dicatat dalam kegiatan milis seperti Kemudian.com ini. Di samping selalu padat dengan lalu lintas postingan tulisan-tulisan anggotanya, yang membuat mereka tetap saling mempunyai ikatan kecintaan terhadap milis sebagai rumah “curhat”, ada hal lain yang juga tak kalah menarik. Mereka membuat produk semacam pembatas buku atau t-shirt dengan kemasan yang menarik lalu ditawarkan kepada setiap anggotanya. Hal-hal yang tampaknya sepele ini sangat mungkin dilakukan oleh komunitas dengan networking sebagai medianya. Dan ini entah disadari atau tidak telah mampu membuat sebuah ikatan persahabatan tetap solid, dan dengan suasana yang guyup. Betapa indah di tengah kesumpekan hidup dan sesaknya nafas kota.

Patut di syukuri, di samping menulis, para awak milis Kemudian.com juga menyadari pentingnya membaca buku-buku sastra. Windry Ramadhina misalnya, nahkoda dari milis Kemudian.com ini dalam satu perbincangan dengan saya lewat YM, lagi asyik masyuk menyimak kumpulan cerpen atau novel dari penulis-penulis ternama di tanah air saat ini. Keinginan membaca sastra akan dengan sendirinya hadir saat mereka membutuhkannya.

Artinya saya akan siap-siap terkejut di kemudian hari, lewat Kemudian.com, akan lahir penulis-penulis handal. Semoga.

Jadi, tetap semangat!
Menulis? siapa takut?!