Wednesday, July 02, 2008
Monday, May 12, 2008
ada yang selalu mengajak kakiku pergi
setiap pagi
aku menimang gerai harapan
di tangkai kuncup kembang
kala cahaya menyibak rimbun dedaunan
ada yang selalu mengajak kakiku pergi
ke arah matahari tenggelam
ke jantung peradaban
ke titik dimana gelap dan terang
tak lagi terpisahkan
setiap sore
kupeluk jalanan dengan setangkup rindu
dari sepasang mata yang rebah di pembaringan
ia telah teramat mengerti makna kedatangan
kala malam larut, kala suarasuara surut
aku masih menyisir sisa hujan
dadaku berkecamuk gemuruh
yang terus menghujam
kucium sukmamu yang bersayap
kelopak mata retak, ranggas dihisap terik ngilu
luka terus tumbuh di sekujur tubuh
kudengar kericik tangis sungai di celah punggung batu
merambati lembah perbukitan, kuyu
di jalanan licin aspal bekas sawah
dan rumahrumah
tenggok dan arit bersandar di dinding vila
kakiku menginjak kering airmata
kucium sukmamu yang bersayap
lalu kukutuki diriku dengan kesunyianmu
bekasi, november 07
aku hanya sebatas noktah
aku hanya sebatas huruf
diantara deretan kata
bersusun menyamping, kebawah
dalam halaman demi halaman
sebuah buku tebal
diantara deretan bukubuku
di rakrak panjang perpustakaan
di satu ruang gedung menjulang
berserak, tegak
di kotakota
dalam dadamu
aku hanya sebatas igau
dari lamunan bocah
yang sesekali menengadahkan sepi
di antara deru ngilu
raung riuh kendaraan
di pendar jalanan
aku hanya sebatas noktah
tertinggal di bantaran hari
dalam kalender
pada angka merah
yang kau sobek
saat senja memerah
lalu padam di keningmu
bekasi, november 07
masih kuingat
telah kutinggalkan kotamu
dengan sehelai surat tanpa alamat
saat itu malam membisu
wajahnya mengeras
matanya meneteskan cemas
telah kutinggalkan kotaku
dengan sebaris catatan tergantung di tali jemuran
“lalu mengapa kau pergi?” tanya pintu
saat beberapa tarikan nafas kakiku terpaku
dan kudengar lirih butiran cemas
membentur lantai teras
telah kutinggalkan kotaku
dengan sehelai surat tanpa alamat
masih kuingat
butirbutir cemas
jatuh membentur lantai teras
dari hulu matamu
bekasi, nov 07
setelah usai percakapan
kita lipat sisa menu yang tandas di pelataran meja
lalu erat jabat tatap mata dan salam perpisahan
menutup usia di sebuah hari yang tak lagi perawan
setelah riuh renyah keripik gurau menepi
siapa mengantar lagi sepiring sunyi?
pada siapa lagi?
: jelang kenaikan bbm
mari tengadahkan wajah sepi
rentangkan telapak tangan kelangit waktu
sepenggal kisah rindu menyusup diantara jarak jemari
menyisipkan desir degub debar
dulu senyumsenyum mengembang sepanjang pematang
matamata berbinar di setiap kelokan jalan
kini tinggal bangku kayu menggigil di depan tungku
seperti tengah menunggu setiap usap penat
karena harihari akan semakin berat
lihatlah, di sepanjang pesisir jiwajiwa sekarat
layarlayar perahu mengatup
jaringjaring terentang di tali jemuran
cangkul dan aniani tergolek sepi
pada siapa lagi nasib akan kami pertaruhkan?
Sunday, May 11, 2008
tampilan baru
tapi sebelumnya, tentu saja layout hal milis ini masih apa adanya, moga-moga aja saya segera bisa merapikan fromat hal dalam ini dengan warna yang lebih segar. tentu saja dengan bantuan temen saya caklul fuad itu...hehehe
Monday, May 05, 2008
ada yang tak kita tahu dari tiap rencanaNya
Lalu sayap-sayap putih itu membawanya terbang
menggugurkan kelopak bunga-bunga
yang tiap pagi mekar dari senyumnya di dadamu
ya, terkadang ada yang tak kita mengerti dari setiap rencanaNya
suatu rahasia yang kelak kita akan tahu
bahwa hanya dariNya mata air cinta mengalir
dari hulu hingga ke hilir
pelupukmu terus meneteskan doa
mengantarkan sebuah kepergian yang tak sia-sia
kawan Dino
semoga tetap diberi kekuatan dan ketabahan
lawanglangit
Monday, April 21, 2008
perempuan
masih bersemayam dalam gemuruh diam
rambut hitam menjerat kakiku yang selalu urung menjauh
dan tatapan matanya meruntuhkan tembok-tembok kota
di jantung tiap dada
membakar seluruh kisah yang tertunda dicatatkan
april/08
Monday, April 14, 2008
PaSar maLaM

PaSar Malam
"banyak pintu menuju sastra"
menilik namanya setiap orang pasti akan punya kenangan ketika membaca dua kata itu. PaSar MaLamsebuah keramaian tradisional yang sudah ada sejak sebelum kota-kota dipenuhi mal-mal. Sebuah tradisi hiburan yang redup terang masih mencoba tetep bernafas di tengah-tengah kesumpekan, di tengah galau, keluh kesah, dan ketidak pastian nasib bangsa. Ekonomi yang tertatih, budaya yang kedodoran, teknologi yang gagap.
nah, lepas dari segala kepenatan itu, ada hal lain yang ingin saya sampaikan sehubungan dengan kata PaSar maLam itu. Yang saya maksud adalah PaSar MaLam yang ini rupanya adalah sebuah kegiatan seni khususnya sastra. PaSar MaLam disini kependekan dari Paguyuban Sastra Rabu Malam. Sebuah paguyuban yang lahir dari glenak-glenik antar teman sesama milis sastra. Saat itu seorang kawan Johanes Sugianto menawarkan tempat kosong di wapres untuk akhir bulan di hari Rabu. Maka setelah melalui proses pembicaraan beberapa kali, dimulai di wapres bulungan, di belakang Gelael. Terus puncaknya di warung Alex TIM malam itu : Zai Lawanglangit, Dino Umahuk, Yonathan Rahardjo, Johanes Sugianto, Dian Ilenk, Nina Yuliana, Sahlul Fuad, Gita Pratama dan Budi Setyawan sepakatlah kita membuat paguyuban itu.
Usai pertemuan saya mendapat tugas menggarap logo, nama paguyuban dan visi misi. Setelah beberapa kali menggagas nama, merancang logo dibantu kawan Deddy Triadi akhirnya ketemulah kata paSar maLam ini. Ketika disodorkan ke kawan-kawan, alhamdulillah mereka sepakat dan meng amini. Ya walhasil tinggal persoalan teknis yang harus kami siapkan untuk acara perdana PaSar MaLam yaitu tgl 30 April 2008, hari Rabu di Wapres Bulungan.
PaSar MaLam diharapkan menjadi oase, ajang, muara bagi setiap penggiat seni sastra untuk saling berbagi. Karena berlebel PaSar MaLam tentu saja paguyuban ini bersifat terbuka, tak ada sekat, kotak-kotak. Ibarat warung yang punya banyak pintu maka semua pintunya terbuka lebar bagi siapa saja. Anggotanya tentu saja lintas milis, lintas suku, bangsa, budaya, agama, lintas negara, lintas semesta
Pemilihan nama PaSar maLam tentu saja agar terkesan ringan, fun, dan unik untuk sebuah paguyuban sastra, diharapkan akan menjadikan komunitas ini jauh dari kesan eksklusif. Bahkan harapan kami sesuai tujuan paguyuban ini yaitu ingin mendekatkan sastra ke masyarakat kota, menjadikan sastra sebagai gaya hidup, budaya dan spirit kehidupan.
Semoga....
lawanglangit
Monday, March 10, 2008
ada yang diam-diam mencatatmu
membentuk tarian ombak, digiring nyanyian angin
melintasi palung, pulau-pulau, pantai, menampari karang
engkaupun tahu, diantara keberadaan kita
sebentar,”ke-ber-ada-an?”, hmm aku ingat
kau pernah mempertanyakan ”apakah kita benar-benar ada?”
waktu itu kujawab sekenanya
”apakah kita benar-benar tak ada?”
bibirmu melukis segaris senyum
sekarang atau nanti, hanya waktu
meski kau pernah tak peduli soal waktu
”kita tak pernah tahu pasti,
apa yang akan terjadi esok hari” katamu
(sementara di rentang jarak itu, ada yang diam-diam mencatatmu)
seseorang berperahu dan tak pernah tahu
pada teluk mana cintanya berlabuh
meski di penghujung hari
ia tambatkan tali jangkarnya
di samping sebujur dipan persinggahan
(sebelum ia benar-benar menjadi nisan)
tentu saja kau tak mau menyisakan usia
untuk dirimu sendiri
tak ada rasa sesal
pada akhirnya kau mengambil keputusan
paling tidak, kini ada pengurai letih perihmu
(lalu, akhirnya engkau mengerti)
tapi siapa bisa mengukur kebahagiaan, cinta
kecuali merasakannya, dengan takaran tak sama
”tak ada bentuk yang benar-benar serupa
bahkan wajah kita di cermin”
kini ada yang menunggu, semacam kabar
dari benih-benih kata, kau labuhkan ke laut
menjadi perahu-perahu, melayari jarak
dengan sajak-sajak
Bekasi, maret ’08
jadi, dimanakah puisi?
punggung bukit itu dulu sunyi
kini riuh suara langkah kaki, derai tawa, isak tangis, juga caci maki.
kau telah memulainya. memangkas semak. menyingkap onak. menepikan duri
menjadi jalan setapak. kita sama-sama mendaki
dari kaki bukit selatan kau daki. dari kaki bukit utara ku susuri.
lalu kita bertemu di simpang jalan ini.
tapi dimanakah puisi?
puisi adalah jalan. dan setiap orang memilih jalannya sendiri. katamu
bersungguh
hmm, katamu puisi adalah jalan?
ya
kita telah sama-sama membuka jalan setapak. lalu bertemu disini
ya
bukankah itu artinya kita pemilik puisi di sepanjang jalan ini?
puisi tak bisa dimiliki
jadi tak adakah pemilik puisi?
ya, apalagi dikuasai. walau ia diberi wadah istana megah penuh atribut materi.
pada dasarnya puisi anti materi. karena sifat materi mengikat. sedang puisi
berjiwa merdeka
puisi jelas bukan semacam caleg. ia lebih tinggi dari sekedar puncak bukit
ini.
bahkan sesungguhnya ia lebih bernilai
dari semua bentuk material di bawah bumi yang kita pijak ini.
”jadi dimanakah puisi?”
kau beranjak pergi. kembali menyusuri jalan mendaki.
bekasi/maret/08
